ROMO MUKADI (KETUA PAMENGKU ADAT JOLOTUNDO) BERSAMA PAMENGKU ADAT DARI DAERAH LAIN MENGGELAR SUROAN DI PETIRTAAN JOLOTUNDO DESA SELOLIMAN KECAMATAN TRAWAS

ROMO MUKADI (KETUA PAMENGKU ADAT JOLOTUNDO) BERSAMA PAMENGKU ADAT DARI DAERAH LAIN MENGGELAR SUROAN DI PETIRTAAN JOLOTUNDO DESA SELOLIMAN KECAMATAN TRAWAS

GEREBEK.COM

Pada hari Kamis Legi, 18 Juni 2026 mulai jam 09.00 WIB. sampai dengan selesai, bertempat di lokasi Petirtaan Jolotundo Dusun Biting Desa Seloliman Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto ada kegiatan Suroan yang digelar oleh Romo MUKADI (Ketua Pamengku Adat Jolotundo) bersama Pemangku Adat dari Daerah lain, yang diikuti oleh ratusan budayawan ataupun pegiat budaya dari dalam daerah maupun dari luar daerah. 

Tampak hadir dalam kegiatan Suroan antara lain: Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto (Tatang Marhaendrata), Perwakilan dari DISBUDPORAPAR Kabupaten Mojokerto,  CAMAT Trawas (Ibu Lies Setyautaminingsih, S.P.,M.M.), Pj. Kepala Desa Seloliman (Sucipto), Kepala Dusun Biting (Ibu Sriah). dan ratusan Budayawan ataupun Pegiat Budaya. 
Tim PAM yang hadir dari: Beberapa Anggota POLSEK Trawas., Beberapa Anggota KORAMIL Trawas, Beberapa Anggota SATLINMAS Desa Seloliman, dan Relawan.

Dalam wawancara dengan Awak Media, Romo MUKADI (Ketua Pemangku Adat Jolotundo) yang juga sebagai Ketua BPD Seloliman mengatakan: "Air itu lambang kemakmuran, lah air dari Jolotundo ini sumber air yang paling tinggi di Gunung Penanggungan ini. Air yang keluar dari mata air di Jolotundo ini dipergunakan untuk masyarakat sekitar untuk air minum keperluan rumah tangga, juga dipergunakan untuk irigasi pertanian, jadi sangat luar biasa, dan yang paling luar biasa lagi, air ini Nomer 1 di dunia. Jadi intinya, kita tiap tahun mensyukuri karunia, hidayah dari Tuhan Yang Maha Esa berupa air. Dan air Jolotundo ini, dari kesaksiannya Mas Puji selaku Koordinator Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur, lah ini tamunya luar biasa, pengunjungnya luar biasa di Jolotundo. Apalagi pada malam 1 Suro, ribuan orang yang datang kesini, dari jam 16.00 WIB. (sore) sampai pagi hampir penuh pengunjung disini. Kira tidak membesar-besarkan, tetapi itu fakta (kenyataan). Saya melaksanakan ini di bulan Suro bertepatan dengan Pasaran Legi sebelum tanggal 10 Jawa. Terkait pelepasan burung, itu filosofinya yang artinya kita semua itu sadar akan alam ini. Begitu pentingnya kehidupan ini, termasuk hewan, termasuk burung. Maka dari itu dengan kesadaran filosofinya, bahwa kita itu tidak hanya melakukan ritual-ritual, yang bersifat itu tidak ada langkah konkret, tidak ada tindakan. Tindakan kita apa ? Yaitu tadi wujud dari kita melepaskan burung sebagai bukti kita cinta terhadap pelestarian alam. Untuk penanaman pohon, kita semua harus ada, bumi ini semakin panas, karena tidak ada kesadaran. Makanya untuk memotivasi, untuk mengajak saudara-saudara semua untuk selalu menanam pohon, karena pohon dengan air ini sangat erat kaitannya. Ketika pohon-pohon ini rindang banyak sekali, dan dari pohon itulah muncul sumber air. Terkait sejak kapan ada ritual ini, ritualnya sudah turun temurun dari nenek moyang kita, mulai sejak Zaman Belanda. Ini yang jadi masalah kadang-kadang saudara-saudara ini tidak sadar antara keterkaitan, bukan berarti di Jolotundo ini dengan tempat yang lain itu tidak ada kaitannya. Sebenarnya ada kaitannya, sebenarnya saya prihatin sendiri, karena apa ? Disekitar wilayah Ngoro ini kan perbatasan antara Ngoro dan Trawas berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Dan di wilayah utara ini banyak galian, lah ini mudah-mudahan nanti Pemerintah Daerah akan mengambil langkah-langkah bijak, supaya hal-hal seperti pengrusakan alam disekitar bumi kita, saya yakin ada alternatif lain. Jadi ego-ego yang sekarang memaksakan untuk menambang di beberapa titik itu, saya harap cepat sadar, tidak menambang disekitar Jolotundo. Karena Jolotundo ini tidak hanya Kabupaten Mojokerto, tetapi sifatnya Nasional. Bahkan turis-turis asingpun sering kesini.dengan ketenaran Jolotundo ini.  Ketenaran yang membuat ini yaitu SRI ISYANA TUNGGAWIJAYA, kalau AIRLANGGA itu memang dulu yang menerima, setelah neneknya ISYANA TUNGGAWIJAYA. Jolotundo ini dibangun sejak abad ke 8. Makanya kita memberi motivasi, kita mengajak anak-anak muda, tokoh-tokoh muda untuk terlibat dalam acara ini, supaya sadar betapa pentingnya pelestarian alam ini, betapa pentingnya untuk merawat lingkungan ini. Harapan dari Eyang-Eyang Sepuh, anak-anak muda ini kedepan lebih maksimal untuk menjaga pelestarian alam, menjaga bumi ini, menjaga budaya. Apalagi sekarang ada program 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan, salah satunya kegiatan hari ini, itu sudah masuk dalam 10 Obyek Pemajuan Kebudayaan yang tertulis di Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 Tentang: Pemajuan Kebudayaan. Petirtaan Jolotundo di Desa Seloliman ini Pemangkunya / pemimpinnya saya sendiri, tetapi disekitar kita juga ada Pemangku-Pemangku dari Daerah lain. Lah dalam ritual ini kita bersinergi, kita saling suport, kita sengkuyung bersama-sama, termasuk Do'a dalam lintas Agama ini. Kita tunjukkan bahwa kebersamaan, indahnya kebersamaan dan kebhinnekaan."

Pelaksanaan kegiatan Suroan  di Petirtaan Jolotundo Dusun Biting Desa Seloliman Kecamatan Trawas berjalan tertib, lancar dan aman. (B.Pwk.)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

LEMBAGA KESWADAYAAN MASYARAKAT (LKM) "SEJAHTERA" DESA TAMBAK AGUNG JELANG BULAN PUASA TAHUN 2026 SANTUNI LANSIA & ANAK YATIM SEJUMLAH 350 ORANG WARGA DESA TAMBAK AGUNG KECAMATAN PURI

PAGUYUBAN SULUK AJI NUSANTARA MENGGELAR RITUAL RUWAT SUKERTO SANGGAR LUHUR MOTRUNO DI DESA KEMIRI KECAMATAN PACET

DPW TMI JATIM DAN DPD TMI MOJOKERTO MENGGELAR SILATURAHMI DAN KOORDINASI KDKMP DI DESA SAJEN KECAMATAN PACET